Rabu, 10 November 2010

Kiat Memilih Jodoh

Menurut sebuah hadist, ada empat factor penilaian untuk memilih siapa orang yang akan dijadikan pasangan yaitu:
  1. harta
  2. keturunan
  3. kecantikan/ketampanan
  4. agama
Idealnya, kita mendapatkan jodoh yang memenuhi keempat criteria diatas. Harta banyak, keturunannya baik, rupawan, dan agamanya baik.
Namun, manusia tidak ada yang sempurna, tentu ada factor-faktor tertentu yang harus kita kesampingkan.
Rasulullah bersabda,”Pilihlah berdasarkan agamanya maka engkau akan selamat.”
Ketiga factor tersebut yaitu harta, keturunan, dan fisik adalah sesuatu yang bisa berubah setiap saat. Orang yang tadinya kaya raya sekejap bisa menjadi miskin, begitu juga sebaliknya orang yang tadinya miskin dalam waktu singkat bisa menjadi orang kaya dengan seizin Allah SWT.
Orang yang memiliki keluarga terhormat, misanya karena sedang menjadi pejabat, bisa jadi di kemudian hari menjadi keluarga yang hina, dipecat dari jabatannya karena korupsi misalnya. Begitu juga sebaliknya, orang yang memiliki latar belakang keluarga yang kurang baik, dengan kegigihannya menata hidup, ia akan dapat menciptakan keluarga yang baik.
Factor fisik sudah jelas, bahwa manusia ini makin bertambah usia maka akan bertambah tua, yang tadinya tampan dan mempesona maka seiring dengan bergulirnya hari maka kulit mukanya akan mulai terlihat kendur keriput dan tidak mempesona lagi.
Anda dihadapkan pada realitas bahwa calon pasangan yang sesuai criteria hadis di atas untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon pasangan?
Ternyata anda memilih si A karena memiliki criteria kebaikan agama, tampan/cantik, menarik, pandai dan usianya cukup buat anda. Apakah pilihan anda itu salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah. Anda telah memilih calon suami/istri dengan benar karena berdasarkan criteria kebaikan agama dan memenuhi sunnah kenabian.
Ada beberapa kisah di bawah ini, semoga kita dapat mengambil pelajaran.
Rasulullah bertanya kepada Jabir ra : “Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu? “ (H.R. Bukhari Muslim)
Jabir ra ,’Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.”
Rasulullah ,”Benar katamu.”
Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya, ia bisa memilih gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun, ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.
Rasulullah SAW menikahi Khadijdah Al-Kubra, seorang janda yang usianya jauh lebih tua darinya (berselang 25 tahun) atau lupakah kita bahwa istri-istri beliau itu semuanya adalah janda, kecuali Aisyah ra. Padahal, kalau beliau mau, siapakah wanita pada waktu itu yang tidak mau diperistri olehnya? Apalagi kalau bukan karena alasan dakwah.
Ummu Sulaim, sohabiyah yang termahal maharnya. Beliau mau menerima pinangan Abu Thalhah yang dengan syarat keislaman Abu Thalhah sebagai maharnya. Insya Allah Ummu Sulaim tidak begitu saja menerima Abu Thalhah kalau tidak yakin dengan kesungguhan dan komitmen Abu Thalhah untuk ber-islam. Dan ternyata setelah masuk Islam, Abu Thalhah menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang istimewa.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari kisah di atas. Jika memang calon suami / istri punya komitmen dan sungguh-sungguh untuk perbaikan diri dan mau bergabung dalam barisan dakwah sebagaimana Abu Thalhah maka tidak ada salahnya juga menjadi seorang Ummu Sulaim
Sumber : Aku Terima Kau dengan Ikhlas, Cucu Surahman dan Titin Y Surahman

2 komentar:

  1. Subhanallah
    amin yaa allah
    semoga kita semua mendapatkan jodoh yang baik dunia akherat

    BalasHapus