Senin, 11 April 2011

Imam Ibnu Al-Jauziy Berbagi Hikmah Tertundanya Ijabah Do’a

Saya pernah terjatuh dalam kesusahan yang mendalam. Saya memperbanyak doa sambil memohon agar dilepaskan dari cobaan itu. Ternyata, jawabannya sangatlah lambat. Mulailah jiwa saya gelisah. Akan tetapi, saat itu saya memperingatkannya.
“Celakalah engkau! Merenunglah!
Apakah engkau hamba atau seorang yang merdeka dan berbuat semaumu? Tidakkah engkau berpikir, engkaukah yang mengatur segalanya atau ada yang mengaturmu? Tidakkah engkau tahu bahwa dunia ini adalah tempat cobaan dan ujian? Jika engkau minta dipenuhi hasrat dan hajatmu, namun engkau tak mampu bersabar untuk tidak mendapatkan apa yang engkau inginkan, lalu dimana letak cobaan itu? Bukankah cobaan itu adalah kemungkinan tidak dikabulkannya suatu maksud dan tujuan?”
“Pahamilah olehmu makna penugasan syariat kepada engkau, niscaya akan ringanlah yang berat dan akan mudah pulalah yang sulit menurutmu”.
Tatkala jiwa saya merenungkan hal itu, ia sedikit tenang.

Saya katakan kepadanya kemudian, 
“Aku punya jawaban kedua. Engkau hanya menuntut hak-hakmu dan tak pernah menggubris kewajibanmu, padahal itu merupakan tindakan yang bodoh. Engkau adalah hamba. Hamba yang cerdas akan berusaha menunaikan hak-hak tuannya. Ia tahu bahwa bukanlah kewajiban seorang tuan untuk memenuhi semua yang diinginkan hambanya.”
Jiwa saya akhirnya semakin tenang.

Hal yang paling ajaib adalah keinginan jiwa anda yang kuat untuk memperoleh apa yang diinginkan. Semakin dicegah keinginan anda, semakin kuat pula dorongan ke sana. Anda mungkin lupa bahwa tertundanya jawaban doa bisa jadi disebabkan dua hal: pertama, bisa jadi penundaan itu lebih baik bagi anda dan menyelamatkan anda dari musibah, atau kedua, karena menumpuknya dosa-dosa anda, sebab dosa-dosa itu akan menghambat terkabulnya doa.

Saya kembali berkata kepadanya, 
“Aku punya jawaban ketiga, Engkau menganggap jawaban-jawaban bagi doamu sangatlah lambat, padahal engkau sendiri menutup jalan terkabulnya doa itu dengan pelbagai maksiat. Jika saja engkau buka kembali jalan itu, niscaya akan dipercepat jawaban bagi doamu. Sepertinya engkau tak tahu ketenangan diperoleh dari takwa. Tidakkah engkau membaca dan mendengar firman Allah swt, Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan membukakan baginya jalan keluar dan akan memberinya rezeki dengan tanpa disangka-sangka… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan mudahkan urusannya (Ath-Thalaq: 2-4). Tidakkah engkau memahami bahwa pahala yang engkau dapatkan selalu sesuai dengan apa yang engkau kerjakan? Celakalah mereka yang mabuk dan tenggelam dalam angan-angan yang terhalang dan tak tercapai.” 
Jiwa saya akhirnya mengetahui bahwa apa yang saya katakan adalah benar. Semakin bertambah tenanglah ia.
 “Aku masih punya jawaban keempat. Engkau meminta harta yang engkau tahu akibat-akibatnya. Jika Dia mengabulkan, mungkin saja harta itu akan membahayakanmu. Engkau seperti anak kecil yang sakit panas namun meminta manisan, padahal Zat yang mengaturmu itu lebih tahu apa yang terbaik. Bagaimana tidak, Dia sendiri telah berfirman, Bisa saja engkau benci sesuatu padahal itu baik bagimu (al-Baqarah:216).” 
Ketika telah jelas baginya apa yang saya sampaikan, semakin mantaplah jiwa ini.

Oleh karena itu, bersihkanlah jalan-jalan terkabulnya doa dengan menjauhi segala maksiat. Lihatlah apa yang anda minta dan tuntut, apakah itu baik bagi agama anda atau hanya sekadar untuk menuruti hawa nafsu.

Jika semua yang anda lakukan hanya demi hawa nafsu, maka ketahuilah bahwa tidak dikabulkannya apa yang anda minta adalah bukti kasih sayang Allah kepada anda. Saai itu, anda seperti bayi yang meminta makanan yang berbahaya bagi anda kepada ayah ataupun ibu. Mereka lalu melarangnya, karena mereka sayang kepada anda.

Andaikata keinginan anda baik bagi agama anda, mungkin demi sebuah maslahat tertentu, mungkin saja ditunda jawaban doa anda, atau mungkin saja tidak dikabulkannya apa yang anda minta adalah yang terbaik bagi agama anda.

Singkat kata, perencanaan Allah jauh lebih baik dari rencana Anda. Dia sering menguji anda dengan mencegah apa yang menjadi kecenderungan anda, agar Dia mencoba sejauh mana tingkat kesabaran anda. Perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran anda yang paling puncak, niscaya akan terlihat apa yang paling gampang untuk anda.

Manakala anda telah membersihkan jalan-jalan pengabulan doa dari tumpukan dosa dan maksiat dan anda bersabar atas apa yang Dia takdirkan, maka semua yang berlangsung adalah pasti yang terbaik untuk anda, apakah Dia memberi anda ataupun Dia tidak memberikan sesuatu kepada anda. 

Saya pun mengakhiri nasehat saya. 
“ini jawaban pamungkasku. Ketahuilah bahwa apa yang engkau minta akan mengurangi pahala dan ganjaranmu dan menurunkan derajatmu. Tatkala Dia tidak mengabulkan doamu, hal itu tidak lain adalah sebuah pemberian yang sangat berharga dari-Nya untukmu. Jika engkau minta kepadanya apa yang terbaik akhiratmu, maka yang demikian itu jauh lebih baik. Pahamilah kembali apa yang aku terangkan kepadamu.” 
Jiwa ini berbisik, 
“Aku sungguh merasa sangat tenang dan damai.”
(dikutip dari Shaidul Khatir karya Imam Ibnu al-Jauziy)
By: cs_515

Tidak ada komentar:

Posting Komentar