Tidak mudah usaha Nabi SAW dan para sahabat untuk mengembangkan agama Islam. Bertahun-tahun Nabi dan para sahabat senantiasa mendapat rintangan. Akan tetapi, tiap-tiap rintangan selalu pula dilalui Nabi dan para sahabat dengan segala kesabaran dan kesungguhan untuk mengatasinya, sehingga kemenangan pun menjadi milik Nabi dan para sahabatnya.
Pada saat itu, anak Nabi hanya tinggal Fatimah, yang lain telah meninggal lebih dahulu. Nabi sangat menyanyangi Fatimah , sebaliknya Fatimah pun sangat sayang dan hormat kepada ayahnya.
Setiap Fatimah datang ke rumah Nabi SAW, beliau segera datang menyambutnya dengan kedua tangan. Anaknya pun dipeluk dengan amat sayang. Dengan sapu tangan diusaplah keringat yang mengalir di kening Fatimah. Sesudah itu, Fatimah pun di suruh duduk di samping beliau. Sambil mengusap-usap kepala Fatimah, Nabi bertanya tentang kesehatan Fatimah serta kondisi suami dan anak-anaknya.
Pada suatu hari, Fatimah datang lagi mengunjungi ayahnya. Seperti biasanya, Nabi menyambut Fatimah dengan sangat gembira dan penuh kasih sayang. Setelah itu, Nabi pun menanyakan Fatimah tentang kesehatan suami dan anak-anaknya.
“Terima kasih, Ayah, semua anggota keluarga dalam keadaan baik.” Tetapi suaranya bercampur sedih, lalu kemudian dia menyambung bicaranya,”Ayah, banyak sekali yang harus saya kerjakan di rumah. Sehari-hari saya tidak pernah berhenti membereskan rumah, mengasuh anak-anak, mengurus dapur, mengerjakan tugas lainnya. Pikirkanlah Ayah. Kami sudah memiliki lima orang anak. Tamu juga tidak henti-hentinya datang dari pagi sampai petang. Dan hanya saya seorang yang harus melayani mereka semua. Tak tahan lagi rasanya, Ayah. Badan saya benar-benar lelah dan letih. Saya dengar, Madinah sekarang ini banyak perempuan tawanan perang. Berikanlah seorang saja di antara mereka kepada saya untuk menjadi pembantu saya, Ayah. Alangkah ringannya beban saya, jika Ayah kabulkan permintaan saya tersebut.”
Dengan tenang, Nabi mendengarkan ucapan dan permintaan anaknya itu. Setelah Fatimah selesai bicara, beliau dengan sedih berkata,” Anakku sayang, seluruh tawanan dan kekayaan yang engkau lihat itu bukanlah kepunyaanku. Orang-orang itu dan seluruh kekayaannya adalah hak orang Muslim yang berjasa selama peperangan ini. Semua itu hanyalah amanat bagiku dan kewajibanku hanya untuk membagikannya secara adil kepada mereka yang berhak mendapatkannya karena jasanya. Dan engkau, Anakku, tidaklah termasuk orang yang berjasa di dalam peperangan. Karena itu, hakmu tidak ada sama sekali. Walau seorang pun dari tawanan-tawanan itu tidak dapat aku berikan kepadamu. Anakku, dunia ialah tempat bekerja. Dan hidup itu berarti bekerja. Maka penuhilah kewajibanmu sebaik-baiknya. Jika engkau merasa penat dan kaurasakan kewajibanmu terlampau berat, berdoalah kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kekuatan kepadamu.”
Sumber: Kisah-kisah Islam Anti Korupsi, Nasirudin Al-Barabbasi
By: 515

Tidak ada komentar:
Posting Komentar