Selasa, 31 Mei 2011

Iman Tampak Saat UJian Menerpa

Seorang mukmin yang baik bukanlah yang hanya menunaikan ibadah yang wajib secara lahiriah semata atau sebatas menjauhi larangan saja. Seorang mukmin yang sempurna imannya adalah yang bersih hatinya dari segala bentuk pengingkaran dan keraguan terhadap Allah.

Setiap kali cobaan datang menimpa seorang mukmin, akan semakin bertambah imannya dan semakin kuat tawakalnya kepada Allah. Ia berdoa, namun bisa saja ia tak merasakan adanya tanda-tanda terkabulnya doanya. Meski demikian, ia tak pernah berubah dalam sikapnya sehari-hari, terutama dala kesendiriannya. Ia sadar bahwa ia hanyalah seorang hamba yang tidak mampu berbuat sekehendak hatinya.

Ia sadar bahwa ia memiliki Raja yang berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Andaikata dalam hati seseorang terdapat keinginan menentang Tuhan, ia akan keluar dari lingkaran ibadah menuju lingkaran keraguan terhadap kebijakan Tuhan seperti yang pernah dialami iblis yang terkutuk. Iman yang kokoh akan terlihat saat cobaan menimpa dengan begitu kuat.

Kita ingat kisah Nabi Yahya yang disiksa bahkan dibunuh oleh pengikutnya yang durjana. Jiwa yang rapuh imannya mungkin akan berkata, “Apakah demikian Allah mengutus seorang Nabi kemudian meninggalkannya begitu saja?” demikian pula kita mengetahui bagaimana orang-orang kafir dahulu menyiksa para Nabi dan orang-orang mukmin, namun seakan tak ada balasan dari-Nya. Jika terlintas dalam pikiran kita bahwa kekuasaan Allah tak mampu melakukan hal semacam balasan, maka jelas hal itu adalah sebuah bukti kekufuran kita.

Andaikata seorang sadar dan tahu bahwa kekuasaan Allah sangat mampu untuk membalas semua itu, bahwa Allah telah menjadikan orang-orang mukmin menderita kelaparan sedangkan manusia-manusia yang kafir kenyang, bahwa Allah membuat orang-orang yang bertakwa menderita dan menjadikan ahli maksiat sehat sejahtera, saat itu pasti ia akan berserah diri kepada Allah. Nabi Yusuf pergi meninggalkan Ya’qub ayahnya hingga membuatnya menangis selama delapan puluh tahun, namun tak terlintas sedikit pun rasa putus asa dalam benaknya. Tatkala Bunyamin, anaknya yang lain juga pergi, dia malah berkata, Semoga Allah mengembalikan mereka semua kepadaku (QS. Yusuf: 83). Demikan pula Nabi Musa berdoa agar Firaun mendapat celaka, namun jawabannya baru dia dapat setelah empat puluh tahun menunggu.

Betapa banyaknya bencana yang menimpa orang-orang besar, yang memperkuat rasa tawakal mereka kepada Allah dan kerelaan mereka dengan apa yang ditimpakan kepada mereka. Hal itu menerangkan makna firman-Nya, Mereka semua rela dengan-Nya (Al-Ma’idah: 119). Di situlah tampak kadar kekuatan iman seseorang bukan hanya dalam raka’at-raka’at pendek saja. Hasan al-Bashri berkata, “Pada saat manusia sama-sama sehat, mereka sejajar dalam iman, namun tatkala bencana menimpa, tersingkaplah siapa yang benar-benar kokoh iman-Nya.”
(Dikutip dari buku Shaidul Khathir oleh Imam Ibnu Al-Jauziy)
By: cs_515 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar