“Tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak membersihkan dosa mereka, tidak pula Dia melihat mereka, dan bagi mereka adzab yang sangat pedih, yaitu: Orang tua yang berbuat zina, seorang penguasa yang pendusta dan orang miskin yang sombong” (H.R.Muslim)
Kedua, seorang penguasa yang berdusta terhadap rakyatnya, padahal ia tidak perlu melakukan itu. Jika ia berdusta berarti ia telah melakukan penipuan. Dalam hal ini, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, sebenarnya motivasi untuk melakukan hal itu sangatlah lemah, sedangkan perbuatan tersebut tetap dilakukannya, maka sangat besar dosanya.
Sungguh, ini merupakan hukuman yang membuat hati seorang muslim gemetar. Allah tidak berbicara kepadanya! Simaklah kisah Ka’ab bin Malik kala di kucilkan Rasulullah SAW. Hampir saja membuat jiwanya melayang. Pikirkan jika engkau yang mengalaminya. Sekiranya engkau mendatangi orang yang engkau cintai, kemudian engkau mendapatinya berpaling darimu atau memusuhimu. Apa reaksimu kala itu? Bukankah engkau akan merasakan, bahwa dunia terasa hitam dalam pandanganmu. Engaku akan didera perasaan terhimpit dalam pandanganmu. Engkau akan didera perasaan terhimpit dan bersedih yang membuat hatimu tercabik-cabik. Lantas, bagaimana keadaan engkau bila Allah memusuhimu, tidak berbicara kepadamu, tidak melihatmu, berpaling darimu, dan tidak membersihkanmu dari dosa? Hal yang demikian tentunya lebih dahsyat dari pada siksa api Jahannam bagi orang-orang yang yakin, yang memiliki rasa cinta dan bertauhid.
Ketiga, orang yang fakir, meski fakir ia sombong. Jika orang kaya kemudian ia berbuat sombong dengan hartanya, ini merupakan hal yang biasa (lumrah), sebagaimana Allah berfirman:
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-‘Alaq : 6-7)
Wahai hamba Allah, jika orang fakir berbuat sombong, lalu apa yang bisa disombongkan?
Begitulah, bagi orang fakir yang hidupnya bergaya mewah, akan membuat Allah murka. Tidak diragukan lagi bahwa kemewahan dapat merusak putra-putrimu. Dari orang-orang yang sombong akan engkau jumpai perkataan,”Aku buat anakku tidak kekurangan apa pun selamanya. Aku akan penuhi semua permintaannya dan keinginannya.”
Ia menyangka telah berbuat baik kepada anaknya. Saya tahu bahwa kasih sayanglah yang mendorong ia melakukan semua itu, bahkan seseorang yang tidak mampu merealisasikannya akan selalu galau dengan keinginan anaknya yang belum terpenuhi ini.
Hal ini sama sekali tidak mendidik anak. Bahkan ia justru menyesatkannya. Ia kehilangan sisi hikmah dari tarbiyah (pendidikan), bahkan ia telah kehilangan tarbiyah imaniyah yang benar untuk putra putrinya.
Mengapa engkau tidak mendidik putra-putrimu sejak dini, agar hatinya senantiasa terpaut dengan Allah. Jika ia meminta sesuatu yang memang bermanfaat, namun engkau belum mampu untuk memenuhinya, maka katakan saja padanya, “ Anakku, mari kita shalat dua raka’at dan berdoa dan kepada-Nya, karena Allah-lah Yang Maha Pemberi Rizki dan Dialah Rabb yang mengatur segala urusan kita. Seandainya Allah tidak memberi anugerah harta, yang dapat kita belanjakan untuk membeli apa yang engkau inginkan, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu tiada manfaatnya bagi kita sekarang, karena Allah sengaja memalingkannya
“Apabila kamu memohon, memohonlah kamu kepada Allah! Apabila kamu meminta (pertolongan), mintalah pertolongan kepada Allah.”
Tidaklah mendidik jika engkau mengabulkan semua tuntutan putra-putrimu, karena itu justru akan membentuk diri mereka menjadi budak nafsu. Jika ia menginginkan sesuatu, dan ia tidak mendapatkannya, maka ia pun akan mencuri, serta rela berkhianat guna menggapai apa yang ia inginkan.
Sesungguhnya anak-anakmu memiliki hak yang lebih besar daripada dunia. Yaitu hendaknya engkau senantiasa mengajari bagaimana ia selalu berlindung kepada Allah, dan bagaimana agar ia selamat dari siksa neraka.
Allah berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintakan” (At-Tahrim : 6)
Sumber : Sungguhkah Anda Ingin Masuk Surga, Muhammad bin Husain Ya’qub
By : 515

Tidak ada komentar:
Posting Komentar